"Tentang Aku" (About Me)
Oleh: Ani Dama Swari, S.Ag., M.Pd.
Awal Mula Cita-Cita Menjadi Guru
Aku adalah seorang guru Sekolah Dasar Negeri di sebuah desa yang lumayan jauh dari perkotaan. Untuk menjadi seorang guru, dibutuhkan perjuangan yang panjang dan proses yang tidak instan.
Diawali dengan ketertarikanku pada gaya mengajar seorang guru baru di sekolahku saat aku masih duduk di kelas lima SD. Metode mengajarnya sangat menarik, gaya bahasanya sopan dan disiplin, serta memiliki kemampuan menyampaikan ilmu dengan baik dan jelas. Yang terpenting lagi, beliau memiliki akhlak yang mulia; sangat memahami dan selalu membantu muridnya yang kesulitan belajar. Saat itulah, aku ingin sekali menjadi seorang guru. Selintas terbayang dalam benakku, aku menjadi guru di sebuah sekolah yang di depannya memiliki halaman luas untuk upacara bendera, dan di sekelilingnya terhampar sawah hijau membentang. Menjadi guru di desa sepertinya menyenangkan dan penuh tantangan.
Itu adalah cita-citaku sewaktu SD. Sayangnya, mimpiku sempat buyar ketika aku berada di bangku SMP dan SMA karena aku tak lagi menemukan sosok guru idola. Mungkin karena di SMP dan SMA sistemnya sudah per mata pelajaran; ada wali kelas dan banyak guru sesuai bidangnya masing-masing. Di sinilah aku tertinggal jauh dari teman-temanku yang kebanyakan mengikuti bimbel di luar sekolah, sehingga beberapa guru menganggapku sebagai anak bodoh yang selalu mendapat nilai pas-pasan. Rasa sakit itu masih kuingat selalu hingga kini.
“Kamu itu sudah bodoh! Kenapa tidak mau ikut les? Nanti kalau tidak bisa masuk SMA negeri, rasakan sendiri!!” ujar seorang guru dengan tatapan sinis.
Padahal, aku sudah pernah menjawabnya bahwa orang tuaku tidak sanggup membayar biaya les, baik les di dalam sekolah, apalagi ikut bimbel di luar sekolah. Di sinilah aku harus menyadari bahwa sebagai murid dengan kemampuan rata-rata, aku tidak akan menjadi pusat perhatian para guru. Ternyata, peran guru itu sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan emosional anak didiknya, bukan hanya sekadar urusan akademiknya saja.
Perjalanan Akademik dan Awal Karier
Setelah lulus SMA, aku hijrah ke Yogya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Qadarullah… aku "tersesat" di jalan yang benar. Seharusnya aku mengambil jurusan Teknik Sipil, tetapi akhirnya aku memutuskan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam. Pikirku, selain belajar ilmu pendidikan, aku juga bisa belajar Agama Islam. Di lingkungan inilah aku menemukan jati diriku kembali, dan cita-cita sewaktu SD itu pun muncul kembali. Bismillah…
Singkat cerita, dengan bekal ijazah sarjana pendidikan, aku memulai karier dengan bekerja sebagai asisten di sebuah bimbel terkenal di Jakarta selama 2 tahun. Kemudian aku menikah dan tinggal di Sleman, Yogyakarta. Aku lalu memutuskan menjadi guru di sebuah TK ketika suami melanjutkan studi S2 di Montreal, Kanada. Waktu itu, aku baru fokus pada pendidikan usia dini.
Belajar Sistem Pendidikan Usia Dini di Kanada
Setahun kemudian, aku menyusul suami ke Kanada. Di sana, aku sangat tertarik dengan pendidikan anak usia dini di “The Care” atau playgroup. Salah satunya adalah Home The Care milik sebuah keluarga yang berasal dari Iran. Tempat penitipan ini diadakan di rumah keluarga tersebut. Anak-anak balita yang dititipkan di sana dipelihara dan dididik layaknya keluarga atau anak sendiri. Berhubung mereka berasal dari Iran, mereka juga mengajarkan nilai-nilai Islam dalam pembelajaran sehari-harinya.
Tak jarang aku pergi sendirian ke taman-taman bermain (playground) hanya untuk melihat anak-anak balita yang berjalan beriringan satu per satu dengan seutas tali yang setiap ujungnya dipegang oleh guru-gurunya. Sebelum bermain di playground, anak-anak dikondisikan untuk mengikuti aturan yang dibuat oleh guru, supaya mereka semua tertib dan bisa menjaga diri saat bermain. Yang paling menarik lagi, tidak ada satu pun dari anak-anak itu yang membawa tas berisi camilan. Mereka benar-benar fokus bermain bersama di sana. Aku tidak melihat satu pun anak yang makan camilan atau mengunyah permen.
Belakangan aku baru tahu dari teman yang menjadi guru The Care di sana, bahwa untuk makan sudah ada jamnya tersendiri. Biasanya, jam 07.00 sampai jam 08.00 adalah waktu sarapan, makan siang sekitar jam 12.00 sampai jam 13.00, dan waktu untuk camilan sehat di jam 14.00-an. Anak-anak dididik untuk disiplin sejak dini melalui pembiasaan. Banyak pengetahuan baru yang aku peroleh dari pengamatanku tentang pendidikan usia dini di Kanada.
Merintis Playgroup di Yogyakarta
Setelah suamiku menyelesaikan studi S2, kami kembali ke Yogya. Aku kembali mengajar ke TK, hingga anak pertamaku lahir. Selama dua tahun aku resign dari TK untuk fokus mengurus anakku sampai ia lepas ASI. Alhamdulillah, aku kemudian bisa kembali mengajar di TK.
Kali ini aku memperkenalkan konsep “The Care” ke sekolah. Aku mengusulkan kepada Kepala Sekolah dan Yayasan untuk membuat playgroup. Usul itu berbuah manis hingga akhirnya aku dipercaya untuk mengelola playgroup tersebut. Sekolah membuka dua kelas: playgroup untuk anak usia 2-3 tahun dan 3-4 tahun, dengan dibantu oleh seorang teman guru serta seorang staf yang mengurus kebersihan kelas dan makanan anak-anak.
Di awal berdirinya, playgroup masih sering dipandang sebelah mata. Gurunya pun terkadang diambil dari latar belakang yang tidak sesuai pendidikannya. Padahal, di Kanada banyak guru PG (playgroup) yang bergelar profesor. Bagi mereka, pendidikan anak usia dini adalah pendidikan dasar (basic) yang menjadi fondasi sangat kokoh bagi perkembangan pendidikan anak selanjutnya.
Kanada Kedua: Pengalaman Menitipkan Anak dan Mengajar
Dua tahun setelah playgroup itu berdiri, aku kembali menyusul suami yang melanjutkan studi S3-nya di McGill University. Di sana, anak pertamaku masuk TK yang dibiayai penuh oleh negara alias gratis. Sedangkan anak keduaku yang masih berusia 8 bulan kutitipkan ke Home The Care yang berbayar. Home The Care ini dikelola oleh sebuah keluarga yang berasal dari Arab, bertempat di sebuah kamar apartemen yang dekat dengan tempat tinggal kami.
Di sela-sela waktu, aku juga membuka jasa penitipan anak di kamar apartemen kami sendiri. Tempat tinggal kami selalu ramai dengan anak-anak. Ternyata, di mana pun kami tinggal, rupanya passion-ku tetaplah menjadi seorang "Guru". Bertemu dengan banyak anak-anak merupakan sebuah kebahagiaan. Melihat mereka tertawa, bermain, dan belajar bersama, sungguh membuat hidup ini menjadi ceria. Keinginan untuk terus menjadi guru selalu memanggil di saat-saat kami berkumpul bersama anak-anak. Keinginan untuk memiliki sekolah sendiri di Yogya pun semakin kuat.
Ujian Terberat dalam Hidup
Manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan segalanya. Keinginan untuk memiliki sekolah sendiri ternyata belum bisa terwujud hingga saat ini. Allah berkuasa atas takdir-Nya. Setelah suami menyelesaikan studi S3-nya, kami kembali ke Indonesia dan suami kembali menjadi dosen tetap di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Aku pun kembali mengajar di TK/Playgroup yang dulu; pihak sekolah dan yayasan sangat baik kepadaku dan selalu memberikan kesempatan untuk kembali mengajar. Hingga akhirnya putri ketigaku lahir dan sempat sebentar bersekolah di playgroup tersebut.
Namun, ketika takdir berkata tak sesuai harapan, aku memutuskan untuk vakum dari semua kegiatanku, termasuk berhenti mengajar. Pada Desember 2024, suamiku berpulang ke pangkuan Allah di Jepang saat beliau sedang memberikan perkuliahan di musim dingin. Semua rencana dan cita-citaku buyar, bumi seakan runtuh. Itu adalah tahun-tahun kegelapan bagi hidupku dan anak-anak. Rasa percaya diri yang dulu begitu kuat seketika runtuh; kami mulai hidup seolah tanpa harapan. Itulah ujian paling berat dalam kehidupan kami.
Hingga urusan sekolah pun ikut terabaikan. Anak-anak tidak lagi memiliki semangat untuk belajar. Aku yang sudah resign dari mengajar hanya fokus menemani anak-anakku yang shock ditinggal ayahnya untuk selamanya. Kehidupan kami berubah drastis 180 derajat. Kami menjalani semuanya tanpa arti dan hanya sekadar mengikuti alurnya saja. Selebihnya, hati kami terasa hampa.
Hingga saat harus memilih sekolah untuk anak-anak, aku tak lagi bisa memikirkan kualitasnya. Anak-anak terpaksa masuk ke sekolah yang sesuai dengan keadaan kami saat itu. Sedihnya, aku tidak bisa membiayai mereka untuk ikut bimbel, sehingga mereka tidak bisa masuk ke sekolah favorit. Di sela-sela keterpurukan kami, aku kemudian mengambil keputusan berani: melanjutkan kuliah S2. Tujuanku satu, agar anak-anak kembali bangkit dan memiliki rasa percaya diri lagi.
Bangkit Kembali Berkat Pendidikan dan Bimbingan Belajar
Aku kuliah di almamaterku dulu, sengaja mengambil kelas non-reguler agar aku tetap bisa mengantar ketiga anakku ke sekolah dan menemani mereka belajar. Alhamdulillah, pelan-pelan keadaan kami mulai membaik. Ketika aku memutuskan untuk kuliah, anak pertamaku kembali bersemangat untuk sekolah. Ia meminta kepadaku untuk ikut bimbel, karena sejak ayahnya meninggal, prestasi akademiknya menurun drastis seperti terjun payung.
Mendengar permintaannya, aku langsung mengiyakan tanpa memikirkan soal biayanya. Berhubung sudah mendekati masa ujian, biaya masuk bimbel memang agak mahal. Terlebih lagi, anakku meminta masuk ke salah satu bimbel yang cukup terkenal di Yogya sewaktu ia masih SD. Kenapa aku langsung berkata "iya"? Karena aku tahu bahwa bimbel tersebut memiliki metode belajar dan etos kerja yang sangat bagus, sehingga banyak output-nya yang berhasil. Soal harga? Aku pasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Yang terpenting adalah anakku masih memiliki keinginan untuk belajar.
Alhamdulillah, Allah Maha Pengasih. Akhirnya anakku bisa ikut bimbel; ia mampu memperbaiki nilai-nilainya yang sempat tertinggal hingga akhirnya lulus dengan nilai yang memuaskan. Ia bahkan bisa melanjutkan pendidikan ke sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terkenal sangat sulit dimasuki karena standar nilai kelulusannya yang tinggi. Aku sangat bersyukur, karena peran bimbel benar-benar sangat membantu anak kami dalam mewujudkan cita-citanya, sekaligus membantuku sebagai orang tua yang memiliki keterbatasan dalam mengajarkan beberapa mata pelajaran kepada anak. Mengikuti jejak kakaknya, kedua anakku yang lain pun kini ikut les di sekolah.
Kembali Mengabdi Sebagai Guru
Akhirnya, kami sekeluarga bisa benar-benar "move on". Aku masih bergelut dengan perkuliahan S2-ku di hari Sabtu dan Minggu, dan anak-anak pun bersekolah dengan senang hati. Dalam keadaan yang mulai stabil ini, aku berpikir untuk kembali mengajar. Kembali ke TK yang dulu kurasa tidak mungkin karena semua kelas sudah terisi oleh guru-guru baru, meskipun pihak sekolah sebenarnya masih berharap aku bisa kembali ke sana.
Kemudian, aku melamar menjadi guru di sebuah SD Negeri yang kebetulan sedang memerlukan guru Agama Islam sebagai pengganti guru yang hendak pensiun. Kedatanganku yang pertama disambut dengan sangat baik oleh Pak Kepala Sekolah. Beliau sangat berharap aku bisa bergabung. Namun nasib berkata lain, guru agama tersebut memutuskan untuk kembali mengajar dan menunda pensiunnya. Aku pun diminta untuk bersabar menunggu, entah sampai kapan, karena Pak Kepala Sekolah tidak berani memastikannya.
Sambil menunggu panggilan, aku mulai berpikir untuk membuat playgroup atau bimbel sendiri di rumah. Kutulis rancangannya dengan rapi, mulai dari segi pembiayaan sampai perekrutan pengajar. Aku juga berusaha menghubungi seorang teman lama sewaktu kami masih aktif di HIMPAUDI. Dulu, ia pernah merencanakan untuk resign dari sekolahnya dan mengajakku mendirikan sekolah bersama. Namun karena waktu itu aku belum resign, tawarannya kuabaikan. Saat kucoba menghubunginya lagi, ternyata ia sudah nyaman mengajar di sebuah TK dekat pusat kota.
Tepat ketika aku sedang asyik memikirkan rencana membuat sekolah anak usia dini, tiba-tiba aku mendapat telepon dari seseorang yang memintaku untuk datang ke sekolahnya. Aku pun menyanggupinya dan keesokan harinya aku berangkat. Ternyata, Ibu Kepala Sekolah-lah yang meneleponku. Beliau menawarkan posisi untuk mengajar di sekolahnya karena kebetulan guru Agama Islam di sana akan purna tugas (pensiun) beberapa bulan lagi.
Melihat kedatanganku, bapak guru Agama yang akan pensiun itu langsung menyetujuinya. Beliau mengatakan bahwa aku adalah sosok yang tepat karena latar belakang pendidikanku sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan. Karena mereka sangat berharap aku bisa melanjutkan tongkat estafet mendidik anak-anak di sekolah tersebut, akhirnya aku menjawab, “Insya Allah saya akan coba, njih!” Sejujurnya, saat itu aku belum terlalu yakin bisa mengajar anak-anak di tingkat Sekolah Dasar, mengingat aku sudah terlalu lama bergelut di dunia pendidikan anak usia dini. Tetapi batinku berkata, tidak ada salahnya dicoba saja.
Menjadi GTT hingga Menjadi ASN
Akhirnya, aku benar-benar kembali menjadi "Guru". Kali ini aku mengajar di Sekolah Dasar. Aku memulainya dengan status sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) dengan gaji yang jauh sekali dari standar UMR. Tetapi hal itu sama sekali tidak membuatku takut atau berniat mundur. Kuniatkan semuanya semata-mata karena Allah. Mengajar dan mendidik adalah pekerjaan yang sangat mulia; pahalanya di sisi Allah pasti sangat luar biasa besarnya. Soal "gaji", aku percaya itu urusan rezeki. Allah pasti akan mencukupkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya yang taat. Aku sangat yakin akan hal itu!
Alhamdulillah, pertolongan Allah selalu saja datang. Hingga pada akhirnya, aku berhasil diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di usiaku yang sudah berkepala lima, dan tetap ditugaskan mengajar di sekolah indukku. Aku sangat bahagia karena masih bisa mengajar anak-anak di sekolahku sendiri. Walaupun sebelum diangkat, aku harus melalui kegagalan sebanyak dua kali—padahal saat itu aku sudah dinyatakan lulus ujian, tetapi tidak mendapatkan formasi sekolah. Sampai akhirnya pihak dinas memutuskan untuk mengangkat kami agar mengajar di sekolah masing-masing.
Pengangkatanku menjadi ASN ini Alhamdulillah sangat membantu biaya pendidikan anak-anakku saat ini. Aku selalu bersyukur atas segala kehendak Allah; bersyukur atas ujian yang harus kami jalani, dan tetap bersyukur atas segala nikmat-nikmat-Nya yang tak terhingga.
Momen Terindah
Pengalaman paling menarik dan berkesan selama aku mengajar adalah kedekatan emosionalku dengan anak-anak didik. Mereka tidak takut atau canggung untuk sekadar menggandeng tanganku, memelukku, bahkan bercerita tentang apa saja kepadaku. Mereka sangat suka memanggil namaku setiap kali melihatku, di mana pun kami bertemu. Itulah yang sering membuatku terharu, karena menyadari bahwa keberadaanku selalu dianggap "ada" dan berharga di mata mereka.
Melihat mereka perlahan-lahan bisa mengaji, mampu menghafal surat-surat pendek, dan rajin mengerjakan salat berjamaah, merupakan momen-momen terindah dalam perjalananku sebagai seorang pendidik.
Tantangan Paling Berat
Setiap pekerjaan pasti ada tantangannya, dan setiap orang hidup pasti ada ujiannya. Dalam duniaku, aku juga pernah menghadapi berbagai masalah. Anehnya, tantangan terberat justru sering kali datang dari orang tua murid dan rekan sesama guru (guru sejawat). Kok bisa?
Sebelum mengajar, seorang guru tentu harus membuat rencana pembelajaran atau modul ajar, serta merancang program-program yang menunjang kegiatan belajar karakter di sekolah. Misalnya, mengadakan pembiasaan salat Dhuha sebelum masuk kelas, atau mengadakan salat Zuhur berjamaah di musala sekolah. Sayangnya, terkadang ada rekan guru sejawat yang kurang mendukung rencana tersebut, sehingga kita sebagai guru Agama terpaksa harus mengurus semua kegiatan itu sendirian. Di sisi lain, ada juga orang tua yang justru marah-marah saat menjemput anaknya, hanya karena sang anak menolak diajak pulang cepat karena ingin mengikuti salat Zuhur berjamaah di sekolah.
Tantangan lainnya adalah ketika Pendidikan Agama dinomorduakan oleh banyak orang. Mereka menganggap pelajaran Agama Islam tidak terlalu dibutuhkan dan yang terpenting hanyalah tiga mata pelajaran utama. Paradigma ini kadang membuat anak-anak ikut-ikutan menyepelekan pelajaran Agama yang aku ajarkan.
Terlebih lagi di zaman sekarang, ketika anak-anak sudah sangat lekat pergaulannya dengan gawai (handphone). Ucapan dan tingkah laku mereka sering kali jauh dari nilai-nilai adab yang diajarkan dalam pelajaran PAI. Banyak anak yang sudah berani berkata kasar dan bersikap tidak sopan di depan gurunya, sulit diatur, sering mengobrol atau melamun sendiri saat jam pelajaran, serta malas membaca dan kehilangan fokus belajar.
Prinsip Mengajar
Jujur, amanah, dan istikamah. Itulah tiga prinsip mengajar yang selalu aku pegang teguh selama ini. Aku selalu berusaha bersikap sangat terbuka kepada anak-anak didikku, dan sebaliknya, mereka pun menjadi terbuka padaku.
Kejujuran dan sikap amanah adalah kunci segalanya. Aku selalu menekankan kepada anak-anak pentingnya bersikap jujur, terlebih lagi pada saat ujian. Sementara istikamah mengajarkan kita untuk selalu bersabar dalam belajar. Jika gagal, maka segeralah bangkit! Teruslah berjuang dan giatlah belajar supaya segala cita-cita dapat tercapai.
Pengalaman Membentuk Karakter
Senang berorganisasi dan luwes bergaul dengan siapa pun akan membentuk kita menjadi pribadi yang matang. Kegemaran "membaca" (baik membaca buku maupun membaca keadaan) juga akan sangat menambah wawasan berpikir kita.
Dulu, sewaktu masih di SMA, aku banyak mengikuti kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler olahraga. Mulai dari OSIS, Rohis, Pramuka, IRMA (Ikatan Remaja Masjid), hingga olahraga seperti karate, bulu tangkis, voli, tenis meja, sampai rutinitas lari dan senam pagi bersama. Kebiasaan aktif itu berlanjut hingga ke bangku kuliah; aku masuk Senat, HMI, LPM, Remaja Masjid, hingga program Da’i Muda Masuk Desa, dan banyak lagi. Selepas kuliah, aku juga pernah bekerja di LSM. Walaupun hanya sebentar, aku mendapat banyak pengalaman berharga karena bisa bertemu dengan tokoh-tokoh besar dan terkenal pada masa itu.
Kegemaranku berorganisasi terus terbawa sampai aku menjadi guru. Karena itulah aku sangat antusias mengikuti kegiatan KKG GPAI (Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam) setiap bulannya. Di sana aku bisa bertemu dengan guru-guru Agama Islam se-kapanewon, untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman. Sekarang usiaku sudah mendekati masa pensiun, sehingga banyak kegiatan luar yang mulai aku kurangi. Saat ini aku lebih banyak melakukan refleksi hidup dan mencoba terus memperbaiki diri.
Dengan memperbanyak aktivitas positif sejak muda, akan menumbuhkan sikap disiplin, berani, semangat berjuang, tahan banting terhadap ujian, terus mau menggali potensi diri, meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan jiwa setia kawan, hingga memperbanyak relasi pertemanan.
Pesan untuk Para Guru Generasi Saat Ini
Untuk meraih kesuksesan, kita butuh proses, bukan sesuatu yang instan. Jadikanlah anak didik sebagai temanmu, hormati mereka, dan jangan pernah membeda-bedakannya. Hormatilah para senior dan hargailah para junior. Bersainglah secara sehat dengan menonjolkan inovasi dan kreativitas masing-masing. Jangan mudah menyerah ketika dihadapkan pada banyaknya masalah dan kesulitan.
Yang paling penting: sebagai pendidik, kita harus selalu sabar, istikamah, dan amanah. Ikhlaslah dalam mengajar dan bekerja, agar hasilnya senantiasa membawa keberkahan dan bermanfaat bagi anak didik kita hingga mereka dewasa kelak.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Jika terdapat banyak kesalahan dalam caraku memaparkan isi hati ini, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih, dan semoga kisah ini bermanfaat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar